bismillah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Selasa, 10 April 2018

Cinta dan Kesetiaan

Aku bertanya-tanya apa itu cinta?
Apakah cinta yang sesungguhnya hanya cukup mengagumi?
Hanya cukup untuk saling bersanding
Dan kemudian sewaktu-waktu bisa terjadi apa saja
Rasanya cinta akan sangat hambar
Tak ada tempat untuk berlabuh yang nyaman

Aku dengan usiaku yang hampir saja menginjak usia perakku
Masih mencari-cari apa itu arti cinta
Sampai aku belajar dari kehidupan
Bahkan tanpa mengucapkan kata cinta

Dalam kehidupanku aku menyajikan senyum
Menyuguhkan kepercayaan
Itu yang aku lakukan
Mungkin tak begitu cukup hanya itu

Sampai suatu ketika
Aku berkorban untuk melakukan sesuatu
Untuk orang disekitarku
Sesuatu yang sangat berharga
Melindungi mereka dengan upayaku
Sebisaku
Menjaga mereka

Suatu jiwa yang saling terkait
Pasti bisa merasakan kejadian sekitar
Dengan hatinya yang saling terkait

Cinta, Kesetian, Kepercayaan, Pengorbanan, dan Hati yang terpaut
💞💟💢💝💜💚💙💘💗💖💕💓


Jumat, 23 Maret 2018

Stereotype dan Fakta dari Cerita Si Kancil

Tahukah kalian tentang Wayang Kancil? Sebagian orang termakan stereotype bahwa Kancil dalam dongeng masa anak-anak merupakan hewan yang licik dan cerdik. Ya memang kancil binatang yang cerdik, tapi stereotype licik itu tidaklah benar dan jelas tidak sesuai. Mungkin, mereka yang termakan stereotype tersebut tidak betul-betul menyimak ceritanya secara utuh. Mereka yang kurang mencermati cerita-cerita tentang si Kancil kurang memperhatikan konteks penyampaian cerita tersebut dan hanya mengkrop penggalan cerita si kancil, dan sepertinya yang kekrop itu adalah cerita saat kancil mencuri atau saat kabur dari seorang atau seekor hewan yang menangkapnya.

Well, kita tinggalkan dulu stereotype itu ya. Tahukah cerita si Kancil itu sebetulnya bersumber dari mana? Cerita si Kancil adalah suatu karya sastra berupa cerita fabel yang kuno dan berasal dari Melayu dan Jawa.  Cerita si Kancil ini diangkat dari beberapa serat Melayu dan juga serat karya Sunan Bonang. Coba kita perhatikan bersama-sama, cerita yang diangkat dari sebuah serat apakah hanya mengirimkan pesan bahwa suatu tokoh itu adalah pencuri? Tentu saja menurut ku tidak. Justru menurutku tokoh si Kancil merupakan hewan yang bijaksana yang menjadi pahlawan untuk hutan dan juga penghuninya.

Cerita Kancil Nyolong Timun (Kancil Mencuri Timun), dikisahkan Kancil mencuri mentimun di kebun Pak Tani. Ketika Kancil tertangkap Pak Tani, si Kancil kemudian berhasil menyelamatkan diri. Jika kita analisa Kancil itu kan sebetulnya hidup di hutan, yang tentu di hutan seharusnya memiliki atau menyuplai lebih banyak makanan untuk para hewan. Tapi, di cerita ini Kancil malah mencuri timun di kebun Pak Tani yang tentu lebih sering dijaga oleh Pak Tani itu sendiri. Kalo kita cermati bersama-sama tentu ini aneh kan?

Sebetulnya Kancil mewakili para hewan di hutan. Kancil yang mencuri timun di kebun pak tani merupakan wujud dari protes terhadap mulai rusaknya keseimbangan alam yang diakibatkan oleh manusia. Manusia telah banyak menjarah hutan, tak hanya itu bahkan manusia telah membabat hutan yang dihuni oleh banyak hewan. Mereka membabat hutan untuk dijadikan ladang maupun untuk dijadikan tempat tinggal. Akibat berkurangnya luas hutan, para hewan mulai kekurangan makanan yang sebetulnya biasa sudah tersuplai di hutan yang mereka tinggali. Akhirnya mereka pergi ke kebun petani atau warga yang berada di dekat hutan untuk mencari makan. Mereka tak punya alasan, karena mereka membutuhkan cukup makan untuk bertahan hidup.

Aku jadi ingat dulu pas aku SD atau SMP, banyak hutan di dekat rumahku, termasuk hutan yang berjarak sekitar radius 30 km dijarah besar-besaran oleh warga. Setauku dijarahnya bukan tanpa alasan, karena yang mepelopori hutan banyak dijarah bahkan di seluruh Indonesia merupakan presidennya sendiri kala itu. Alasannya karena daripada dijarah oleh oknum yang entah siapa? atau hanya segelintir orang ya mending dijarah oleh rakyat kalangan bawah saja. Tapi apa yang terjadi setelah hutan menjadi gundul? Akhirnya banyak hewan termasuk kera banyak yang turun ke jalan dan ke pemukiman warga untuk mencari makan. (Sebetulnya mungkin bukan hanya kera, tapi babi hutan makin menjadi menjarah lahan pertanian warga, dan lagi beberapa makhluk halus kehilangan rumahnya dan mencari-cari pohon keramat yang ditebang juga dengan bertanya kepada warga, well thats true!) 👻

Wayang Kancil mulai muncul kembali pada tahun 1980 di Yogyakarta, mbah Ledjar Subroto merupakan penemu dan pemprakarsanya. Beliau mengangkat kisah si Kancil yang tak hanya menyampaikan misi kebudayaan tetapi juga misi kelestarian alam dan nilai-nilai karakter. Kemunculan Wayang Kancil ini tentu disambut hangat oleh Indonesia sendiri dan bahkan beberapa negara seperti Belanda, Inggris, Jepang, Australia, dll. Beliau disebut-sebut sebagai maestro Wayang Kancil dan mendapat banyak penghargaan dari berbagai negara di Eropa dan Asia.  Keren kan....
Mereka yang dari luar negeri saja menghargai Wayang Kancil, bagaimana dengan kamu? Sudah kah anda tahu dan menghargainya? Yuk mulai mecintai Budaya kita, budaya Indonesia..... 💘💗 

Kamis, 22 Maret 2018

Awal Gemar Menonton Wayang

Keluargaku tinggal di daerah Cilacap Barat, Cilacap perbatasan dengan Jawa Barat jadi jarang sekali ada pagelaran wayang kulit, berbeda dengan derah Cilacap yang berbatasan dengan Kebumen yang biasanya banyak dalang dan juga banyak pagelaran wayang kulit. Bapakku adalah seorang yang suka sekali dengan Budaya Jawa beliau suka sekali tembang Jawa, pintar membuat sinom, pangkur, geguritan dan lain sebagainya dan bahkan faseh sekali kalau menulis aksara Jawa.
Suatu ketika saat aku duduk di bangku SD, bapak antusias sekali kalau ada acara wayang semalam suntuk di salah satu stasiun TV dan kemudian bercerita kepada kami. Dengan penuh semangat bapak mengajakku dan kembaranku untuk menonton juga. Tentu kita sangat senang, dan kebetulan acara wayang tersebut biasanya ada di malam Minggu. Kalau ada acara wayang kami langsung menggelar kasur di depan tv. Acara wayangnya memang tengah malam, yaitu mulai sekitar jam 22.00 malam, biasanya aku dan kembaranku tidur sebelum acara dimulai.

Acara wayang dimulai, kami pun dibangunkan oleh bapak. Untuk pertama kami tentu tak mengerti benar siapa tokoh-tokoh wayang yang sedang tampil dan apa alur ceritanya. Kami biasanya bertanya kepada bapak, mereka sedang berbicara mengenai apa, dalangnya siapa, dan kemudian sindennya pun kami bahas.

Tahukah tokoh wayang yang terngiang dalam benakku siapa saja? Pandawa lima tentu saja yang terdiri dari Yudishtira (Puntadewa), Arjuna (Dananjaya, Brihanala), Wrekudara (Bimasena, Bratasena), Nakula dan Sadewa. Tokoh lain yang pasti ada dan hanya ada di pewayangan Jawa yaitu Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Buto yang sepertinya sering muncul di pagelaran wayang yaitu buto cakil dan Raden Setiaki. Untuk Wayang perempuan yang aku ingat adalah Dewi Kunthi dan juga Bethari Uma/ Betari Durga.

Bapak memang mengajarkanku untuk mencintai Budaya Jawa sejak dini, tak hanya wayang saja tapi juga mengajarkan bahasa krama, suluk-suluk dasar dan cara menulis Aksara Jawa. Sehingga kita menjadi peka terhadap Budaya Jawa dan mencintai budaya sendiri.

Mungkin saat SMP dan SMA aku mempelajari hanya cerita wayang secara dasar tanpa mempelajari lebih detail tentang tokoh dan perwatakan wayang, jenis wayang dan tak mempelajari bagaimana bisa terjadi perang Barathayudha dan lain sebagainya, kronologi cerita pewayangan dari Ramayana, Barathayudha, dan juga Panji.

Kemudian saat kuliah aku juga masih sempat mempelajari lagi, terutama saat lulus S1 dan melanjutkan Profesi aku pindah dari Bandung ke Yogyakarta, tempat yang kaya akan budaya. Di Yogyakarta ini aku sering meluangkan waktu untuk menonton wayang.  Awalnya aku hanya menonton pagelaran wayang yang di dalangi oleh ki Seno Nugroho. Dalang kondang dan terlaris di Yogyakarta. Ciri khasnya yang menyajikan wayang dan gaya berceritanya yang mudah dipahami oleh penonton membuat aku yang lumayan awam akan cerita pewayangan sedikit demi sedikit dapat mengidentifikasi perwatakan dan nama-nama tokoh wayang lebih lengkap dan juga alur ceritanya.

Memang tak begitu mudah untuk memahami cerita wayang secara utuh, apalagi cerita yang disajikan selama semalam suntuk. Aku biasanya akan memahami cerita secara lengkap ketika sudah menonton dua atau tiga kali pagelaran wayang dengan lakon/judul yang sama. Dan saat atau setelah menonton wayang biasanya saya bertanya-tanya dengan wiyogo/penggamel dan bahkan bertanya dengan dalangnya langsung. (Ini saking ngga taunya atau saking ingin tahunya tentang wayang :D)

Cara lain untuk memahami wayang yaitu dengan membaca cerita-cerita wayang dan juga berdiskusi dengan beberapa orang mengenai wayang yang telah aku tonton. Biasanya aku berdiskusi dengan kembaranku yang sudah lama tinggal di Yogyakarta karena memang S1nya di Yogyakarta dan juga pacarnya yang sekarang yang kebetulan juga dulu berkuliah di jurusan seni kriya wayang. Aku juga dipinjami beberapa buku tetang pewayangan seperti buku Barathayudha transliterasi/terjemahan I Nyoman yang berisi cerita wayang versi India, Adiparwa dan beberapa ensiklopedia Kultur Budaya Jawa berjudul Court Art of Indonesia Jessup, Hellen Ibbitson (1992). Membahas juga beberpa perbedaan cerita wayang yang disajikan di India dan di Jawa.

Ternyata belajar wayang itu juga selain belajar mengenai filosofi-filosofi kehidupan juga belajar tentang seni dan budaya. Aku sebagai penikmat wayang merasa senang ketika menyimak gamelan dan suluk-suluk yang dibacakan. Pagelaran wayang kulit termasuk pagelaran seni yang lengkap, dalam pewayangan terdapat seni sastra, lagu, musik dan bahkan seni kriya wayangnya.

Dari pagelaran wayang ke pagelaran wayang aku terus belajar, karena tak bisa dipungkiri sastra adalah ilmu pengetahuan non exacta yang pasti mempunyai beberapa variasi di beberapa tempat. Di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur biasanya memiliki alur cerita dan versi masing-masing. Wayang di Jawa Tengah pun ada versi Banyumasan, Solo dan lain sebagainya. Bahkan di Yogyakarta sendiri mungkin akan memiliki beberapa versi ketika satu lakon cerita dibawakan oleh beberapa dalang yang berbeda. Terlepas dari itu memang sebetulnya inti dari pagelaran wayang adalah belajar tentang sifat baik dan buruk melalui tokoh pewayangan yang disajikan yang artinya belajar tanpa harus ada yang digurui atau mengurui.

Sampai sekarang aku masih kagum dengan seni pagelaran wayang. Beberapa dalang yang sudah saya tonton adalah ki Mantep Sudarsono (Dalang kondang di Indonesia), ki Seno Nugroho(Dalang kondang dan terlaris di DIY), ki Catur Benyek Kuncoro (Dalang Wayang Hip Hop), ki Gilang Tomaskumoro (Dalang Muda pemenang Dalang Mumpuni di Festival Dalang Muda Nasional 2016) dan mereka adalah dalang favoritku sejauh ini. Dalang lain yang pernah aku tonton adalah ki Gondo Suharno, Ki ..... Lebdo Cerito emmmm lupa :D

Sebelum bulan Februari 2018 banyak sekali pagelaran wayang di DIY, tapi semenjak dana aspirasi kebudayaan yang untuk pagelaran wayang dihentikan karena alasan aliran dana yang tidak sehat tak banyak lagi pagelaran wayang di DIY. Aku agak menyayangkan sebetulnya.

Lestari terus pagelaran wayang ...... !!! Warisan budaya lisan dan non bendawi / Masterpieces of the oral and intangible heritage

Rabu, 14 Maret 2018

Dedonga Cara Jawa

Di Yogyakarta banyak sekali forum yang membahas tentang budaya termasuk membahas tentang serat. Salah satu yang sering saya ikuti adalah bahasan mengenai budaya bertema di Pendopo Ifada, salah satu penerbit di Yogyakarta dan untuk pembicara yang sering saya ikuti adalah Ki Herman Sinung Janutama seorang peneliti Jawa. Pas aku main ke Pendopo Ifada mas Bagus langung menyodorkan beberapa buku dan menunjukkan video Ki Herman membacakan kidung, yang kidung tersebut berisikan tentang berdoa dengan cara Jawa dan juga beberapa serat berisikan tentang danyang atau penguasa jin/gaib di banyak tempat di Indonesia. Puniki naskahipun... sumonggo.....

[19:30, 2/3/2018] Mas Bagus Ifada:

Dedonga Cara Jawa

Pambuka

Bawa Sekar Dhandhanggula Turu Lare :
Kang kinitha lelaguning gendhing,
Sarayuda pambukaning sekar,
Dhandhanggula turu lare,
Binarung ing swara rum,
Ruming raras kang milangoni,
Wiramane lancaran,
Mung kinarya gecul,
Pepathete nora oncat,
Wus kacakup cakepane datan cicir,
Lir-ilir gumregaha.

Katampi Tembang Ilir-Ilir :
Lir-ilir lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar
Bocah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna kanggo masuh dodotira
Dodotira kumitir bedhah ing pinggir
Domana jlumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane
Mumpung jembar kalangane
Ya suraka .. Surak iyo

Kidung Suksmawedha
(Dhandhanggula)

Ana kidung hakembang hartati, sapa weruh reke
araningwang, duk ingsun ana ing ngare, miwah duk aneng
gunung, Ki Samurta lan Ki Samurti, ngalih aran ping
tiga, Artadaya tengsun, araningsun duk jajaka, Ki
Artati mangke araningsun ngalih, sapa weruh
araningwang.

Sapa weruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke
Artadaya, tunggal pancer lan uripe, sapa wruh ing
panuju, sasat sugih pagere wesi, rineksa wong sajagad,
kang angidung iku, lamun dipun apalena, kidung iku den
tutug padha sawengi, adoh panggawe ala.

Lawan rineksa dening Hyang Widdhi, sakarsanya tinekan
dening Hyang, rineksa ing janma kabeh, kang maca kang
angrungu, kang anurat myang kang animpeni, yen ora
bisa maca, simpenana iku, temah ayu kang sarira, yen
linakon dinulur sasedyaneki, lan rineksa dening Hyang.

Kang sinedya tinekan Hyang Widdhi, kang kinarsan
dumadakan kena, tur sinihan Pangerane, nadyan tan
weruh iku, lamun nedya muja semedi, sesaji ing sagara,
dadya ngumbareku, dumadi sarira tunggal, tunggal jati
swara awor ing Artati, aran Sekar Jempina.

Somahira ingaran Penjari, melu urip lawan melu pejah,
tan pisah ing saparane, paripurna satuhu, anirmala
waluya jati, kena ing kene kana, ing wasananipun,
ajujuluk Adi Suksma, cahya ening jumeneng aneng
Artati, anom tan kena tuwa.

Panunggale kawula lan Gusti, Nilaening arane duk
gesang, duk mati nilar arane, lan suksma ngumbreku,
ing asmara mongraga yekti, durung duwe peparab, duk
rarene iku, awayah bisa dolanan, aran Sang Hyang Jati
iya Sang Artati, yeku sang Artadaya.

Dadya wisa mangkya amartani, lamun marta atemahan
wisa, marma Artadaya rane, duk lagya aneng gunung,
ngalih aran Asmarajati, wayah tumekeng tuwa, emut
ibunipun, Ni Panjari lunga ngetan, Ki Artati nurut
gigiring Merapi, anulya mring Sundara (Sindara).

Kidung Darmawedha
(Dhandhanggula)

Ana Pandhita akarya wangsit, mindha kumbang angajab
ing tawang, susuh angin ngendi nggone, lawan galihing
kangkung, wekasane langit jaladri, isining wuluh
wungwang, lan gigiring punglu, tapaking kuntul
anglayang, manuk miber uluke ngungkuli langit, kusuma
njrah ing tawang.

Ngambil banyu apikulan warih, amek geni sarwi
adedamar, kodhok ngemuli lenge, miwah kang banyu
dikum, myang dhahana murub kabesmi, bumi pinethak
ingkang, pawana katiyub, tanggal pisan kapurnaman, yen
anenun senteg pisan anigasi, kuda ngrap ing
pandhengan.

Ana kayu apurwa sawiji, wit buwana epang keblat papat,
agodhong mega rumembe, apradhapa kukuwung, kembang
lintang salaga langit, semi andaru kilat, woh surya
lan tengsu, asirat bun lawan udan, apupucuk akasa
bungkah pratiwi, oyode bayu bajra.

Wiwitane duk anemu candhi, gegedhongan miwah
wewerangkan, sihing Hyang kabesmi kabeh, tan ana janma
kang wruh, yen weruha purwane dadi, candhi sagara
wetan, ingobar karuhun, kayangane Sang Hyang Tunggal,
sapa reke kang jumeneng mung Artati, katon tengahing
lawang.

Gunung Agung sagara Serandhil, langit ingkang amengku
buwana, kawruhana ing artine, gunung sagara umum,
guntur sirna amengku bumi, rug kang langit buwana,
dadiya weruh iku, mudya madyaning ngawiyat, mangasrama
ing gunung agung sabumi, candhi-candhi sagara.

Gunung luhure kagiri-giri, sagara agung datanpa sama,
pan sampun kawruhan reke, Artadaya puniku, datan kena
cinakreng budi, nanging kang sampun prapta, ing
kuwasanipun, angadeg tengahing jagad, wetan kulon lor
kidul ngandhap lan nginggil, kapurba kawisesa.

Bumi sagara gunung myang kali, sagunging kang isining
bawana, kasor ing Artadayane, segara sat kang gunung,
guntur sirna guwa samya nir, singa wruh Artadaya,
dadya teguh timbul, lan dadi paliyasing prang, yen
lelungan kang kapapag wedi asih, sato galak suminggah.

Jim peri prayangan padha wedi, mendhak asih sakehing
drubiksa, rumeksa siyang dalune, singa anempuh lumpuh,
tan tumama ing awak mami, kang nedya tan raharja,
kabeh pan linebur, sakehing kang nedya ala, larut
sirna kang nedya becik basuki, kang sinedya waluya.

Siyang dalu rineksa ing Widdhi, dinulur saking karseng
Hyang Suksma, kaidhep ing janma kabeh, aran wikuning
wiku, wikan liring mudya semedi, dadi sasedyanira,
mangunah linuhung, paparab Hyang Tegalana, kang
asimpen yen tuwajuh jroning ati, kalis ing pancabaya.

Yen kinarya atunggu wong sakit, ejim setan datan wani
ngambah, rineksa malaekate, nabi wali angepung, sakeh
lara padha sumingkir, ingkang sedya pitenah, marang
awak ingsun, rinusak dening Pangeran, eblis laknat
sato mara-mara mati, tumpes tapis sadaya.

*

Kidung Reksawedha (Suluk Plencung)
(Sinom)

Apuranen sun angetang, lelembut ing tanah Jawi, kang
rumeksa ing nagara, para ratuning dhedhemit, agung
sawabe ugi, yen apal sedayanipun, kena ginawe tulak,
kinarya tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi
tawa.

Kang kariyin ing bang wetan, Durganeluh Maospait,
lawan Raja Baureksa, sami ratuning dhedhemit,
Blambangan kang jagi, awasta Sang Bala Batu, Buta
Locaya ika, kang rumeksa ing Kedhiri, Prabu Jaksa kang
rumeksa Giripura.

Sida Kare ing Pacitan, Kedhuwang si Klenthing Mungil,
Endra Yaksa ing Magetan, Jenggala ing Tunjungpuri,
Prangmuka Surabanggi, ing Panggung si Abur-Abur, Sapu
Jagad ing Jipang, Madiun sang Kala Sekti, pan si Korep
lelembut ing Panaraga.

Singa Barong Jagaraga, Majenang Trenggiling Wesi,
Macan Guguh ing Grobogan, Kala Johar Singasari,
Srengat si Baru Kuping, ing Blitar si Kala Kathung,
Buta Krodha ing Rawa, Kalangbret si Sekar Gambir, Caru
Bawor kang rumeksa ing Lamongan.

Gurnita ing Puspa Laya, si Lengkur ing Tilam Putih, si
Lancuk aneng Balora, Gambiran sang Kala Durgi, Kedhung
Gedhe ni Jenggi, ing Batang si Klewer iku, Lasem Kala
Prahara, Sidayu si Dhandhang Murti, Wida Langking ing
Candhi kahyanganira.

Semarang Barat Katiga, Pekalongan Guntur Geni,
Pemalang Ki Sembung Yuda, Suwarda ing Sokawati, ing
Tandhes Nyai Ragil, Jaya Lelana ing Suruh, Buta
Trenggiling Tanggal, ing Kendhal si Gunting Geni,
Kaliwungu Gutu Kapi kang rumeksa.

Gegelang si Somaita, Dhadhung Awuk Brebes nenggih, ing
Pajang Buta Salewah, Monda-Monda ing Mentawis, Palered
Rajek Wesi Kuthagedhe Nyai Panggung, Pragota
Kartasura, Cirebon Setan Kaberi, Juru Taman ingkang
aneng Tegal Layang.

Genawati ing Siluman, Kemandhang Waringinputih, si
Kareteg Pajajaran, Sapu Regel ing Batawi, Warusuli
Waringin, ingkang aneng gunung Agung, Kalekah
Ngawang-awang, Parlapa ardi Merapi, Ni Taluki ingkang
aneng Tunjungbang.

Setan Kowak aneng Sendhang, Pamasuhan Sapu Angin,
Kresna (Sonod) Pada ing Rangkudan, Pandhan Sari ing
Tarisig, kang aneng Wanagiri, Malang Karsa namanipun,
Sawahan Ki Sandhungan, Pelabuhan Duduk Warih, Buta
Tukang ingkang aneng Pelayangan.

Rara Amis aneng Tawang, ing Tidhar si Kala Sekti, Madu
Retna ing Sundara, Jalela ing redi Sumbing,
Ngungrungan Sidamukti, Terapa ardi Merbabu, si Bangsan
ardi Kombang, Prabu Jaka ardi Kelir, Aji Dipa ardi
Kendheng kang den reksa.

Sunan Lawu Ngargapura, ing Bayat Ki Malang Gati,
Kalanadhah ing Toyamas, Segaluh aran si Rendhil,
Banjaran Ki Wesasi, si Korok aneng Lowanu, gunung Duk
Geniyara, mBok Bereng Prang Tritis, Dremba Moha
ingkang aneng Purbalingga.

Ing Karangbolong si Kreta, si Belen ing Banarawi, ing
Jenu si Karung Kala, ing Penging Banjaransari, Dhung
Winong Andonsari, Pagelen Ki Candra Latu, ardi
Kendhalisada, Kethek Putih kang nenggani, Buta Glemboh
ing Gajah kahyanganira.

Rara Dhenok aneng Demak, si Bathithit aneng Tubin,
Juwal Pasat ing Talsanga, ing Tremas Kujang nenggani,
Trenggalek Nyai Kuring, si Kuncung Cemarasewu, Kala
Dhadhung Benthongan, si Asmara aneng Taji, Bagus Anom
ing Kudus kahyanganira.

Himagiri Manglar Munga, ing Gadhing Ki Puspagati,
Cucuk Dhandhang ing Kartika, Kulawarga Tasikwedhi,
kali Opak winarni, Sanggabuwana ranipun, Pak Kecek
Pajarakan, Cingcing Goling Kalibening, ing Dhahrama
Kara Welang kang rumeksa.

Kang aneng Warulandheyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus
Karang aneng Roban, Pasujayan Udan Riris, Widanangga
Dalepih, si Gadhung Kedhung Garunggung, kang aneng
Karabean, Citranaya kang nenggani, Genapura ingkang
aneng Majaraga.

Logenjeng aneng Juwana, ing Rembang si Bajulbali, si
Londir ing Wirasaba, Madura Buta Carigis, kang aneng
ing Matesih, Jaran Panolih ranipun, si Gober
Pecangakan, Danapi ing Jatisari, Obar-Abir kang
rumeksa Jatimalang.

Arya Tiron ing Lodhaya, Sarpabangsa aneng Pening,
Pesayangan Udan Gelap, Buta Gigis aneng Tegil, ing
Grenggeng Caping Warih, Penawangan Gutuk Watu, Tengger
Ni Otarwiyah, Wiradesa Gusti Geni, Penarukan kang aran
Setan Korokan.

Rara Dungik Randhulawang, ing Mendhang Retna Pengasih,
Buta Kepala ing Prambanan, mBok Sampur neng ardi
Gajahmungkur, si Gendruk ing Talpegat, ing Ngembel
Rahaden Panji, Pagerwaja Rahaden Kusumayuda.

Si Penthul aneng Kacangan, Pecabakan Dodolkawit,
kalangkung kasektenira, titihane kuda putih, lar waja
kemul neki, kalacakra payungipun, pan samya rinajegan,
akukuh rajege wesi, cemethine pat-upate ula lanang.

Sinabetaken mangetan, ana lara teka bali, tinulak bali
mangetan, mangaidul panyabet neki, na lara teka bali,
tinulak bali mangidul, ngulon panyabetira, ana lara
teka bali, pan tinulak mangulon bali kang lara.

Mangalor panyabetira, ana lara teka bali, tinulak
ngalor parannya, manginggil panyabet neki, na lara
teka bali, tinulak bali mandhuwur, mangisor
panyabetnya, ana lara teka bali, pan tindak bali
mangandhap kang lara.

Si Kuthung aneng Jepara, Gambiranom aneng Pathi,
kalangkung kasektenira, keringan samining dhemit, ing
Ngrema Tambak Suli, Yuda Paksa ing Delanggu,
Perangtandang Kesanga, Buta Kala ing Pasisir, si
Kecubung Kadilangu kang rineksa.

Nini Gelu aneng Jenar, Klabang Curing Banjarsari,
Talengkung ing Watukura, si Kuris ing wit Talrukmi,
Pujangga lan Pujanggi, ingkang aneng Semeru, si Bedreg
ing Tegalpat, Bancuri klawan Bancuring, kang angreksa
sukune ardi Baita.

Si Lowar aneng Subang, ing Kuwu si Ondar Andir, si
Barandang aneng Comal, si Kalunthung Dudukjalmi, setan
Telaga Pasir, ingkang aran si Jalilung, Kalangadhang
ing Tuntang, si Kuru Bokor den nggoni, Singanadha
ingkang aneng Petanahan.

Teluh Braja neng Cilacap, Nusa Barong Buratwangi,
Singgela Ki Nayadipa, si Dulit aneng Weleri,
Pringtulis Udan Geni, Kandhangwesi Gendir Diyu,
Barukin ing Kejayan, Dirgabahu Jeruk Legi, si Mahesa
Kuda neng Nusa Kambangan.

Rara Duleg ing Mancingan, Guwa Langse Raja Putri, kang
rumeksa Parang Wedang, Raden Arya Jayeng Westhi, kabeh
urut pasisir, kulawarga Ratu Kidul, sampun pepak
sadaya, para pramukaning dhemit, nungswa Jawa Pangeran
kang rumeksa.

*
Tembang Asmarandana

… 01 …

Kasmaran ingkang pinuji, luputa ing ila-ila, den dohna tulak sarike, ngetang sagunge lelembat, kang kerah Goplem ika, demit lit-alit sadarum, pan dede demit pra raja.

… 02 …

Setan brekasakan sami, si Goplem ditya kebayan, demit jro karaton kabeh, sawabe kinarya tengga, wong sakit budur samya, punika ingkang pakantuk, kalawan wong sakit panas.

… 03 …

Gedong upas kang nenggani, Kala Janggol singkirannya, kang ngreksa Ringin kembare, Kala Sogoksilit ika, si Biti ing Pandeyan, lawan si Gutul Pinanggul, si Angklung aneng Gapura.

… 04 …

Si Lengur Waringin kalih, Bajang Klewer ngreksa Gladag, Jim Putih ing Mesjid gede, Kyai Gotil ing Pajeksan, Plentung Mangku Bumenan, Jungkit Patihan nggenipun, Kyai Modin Bumi Natan.

… 05 …

Tambur Pagongan nggoneki, Bajang Angkrik Tepasanan, Bagus Bengkak rumeksane, ing paseban Prang Wadanan, Gutik ing Pamurakan, si Bodong Loji, nggenipun, Bagus Keret ing Plenggahan.

… 06 …

Ing Karetek Wewe Gerit, Gandor Loji cilik nggennya, Bangkrah aneng dedalane, Pak Tekik, aneng Pacinan, Angkrik ing Pasar besar, kang rumeksa aneng Panggung, Jebres wasta Ki Balentang.

… 07 …

Gus Lampor Jagalan nenggih, Ki Busik ing Wanareja, Ki Londet ing Krapyak, nggone, Balatidir ing Kentingan, Lengkrah Pucangsawitan, Ketek-ketek aneng Jurug, ing Beton si Kalanadah.

… 08 ..

Loji kebon Uwil-uwil, Tengklik Cocor Keter rannya, Mele Pakecohan nggone, Busikmelik Kaluraman, si Jrangkong ing Penjalan, Kotes Sawahan nggenipun, Buta Piti aneng Sangkrah.

… 09 …

Ing Ganggang Bletutur nenggih, Patunggon si Basahlungkrah, Sanasewu dedanyange, Bok Suwenggi wastanira, Kopraljulig Sampangan, wus tamat sasaneng tembung, pamanguning padanyangan.

… 10 …

Gantya kang pinurweng kawi, kalamun darbe atmaja, jalu estri datan pae, nggenira amrih kamulyan, aywa na kang pepeka, lela-lelanen ing kidung, kinanti kalis ing sawan.

Tembang Kinanti

… 01 …

Yen anangis lare iku, lela-lelanen lan dikir, supaya doh kang lalara, sarap sawane yen wani, saking rahmating Hyang Suksma, lan supangate Njeng Nabi.

… 02 …

Winacaha puji iku, setane lumayu nggendring, sarap sawane sumimpang, kala kalane sumingkir, cacing racak pada mendak, remi kruma pada mati.

… 03 …

Pitik tulak pitik tukung, tetulaking jabang bayi, ngedohaken cacing racak, sarap sawane sumingkir, si tukung mangungkung ngarsa, si tulak bali ing margi.

… 04 …

Si jabang bayi puniku, kekasihira Hyang Widi, rineksa ing Malaekat, den emong ing Widadari, pinayungan ing Hyang Suksma, kinebutan para Nabi.

… 05 …

Sakatahe wali kutub, ngulama lan para mukmin, samya angreksa ki jabang, mila tebih ing sasakit, sirna larane ki jabang, walagang slamet ki bayi.

… 06 …

Ana kinjeng tangis tangis mabur, mentok aneng sela ardi, myarsa tangise ki jabang, gyha prapta amarepeki, arsa nyuwuk kang lelara, ngalingi sarwi njampeni.

… 07 …

Punapa t jampinipun, godong asrah ing Hyang Widi, berambang lembahing manah, temu teminahing ati, adas uyah siring nala, mung salawat puji dikir.

… 08 …

Tegese dikir puniku, manut marang Kanjeng Nabi, Mochammad Dinil Mustapa, kalawan maknane dikir, eling mring Pangeranira, kang Agung kang Maha Suci.

… 09 …

Mangkana ta donganipun, alahuma Adam Sarpin, kaheru huwal kamolah, wajibuhu ngalaihi, warabbuhu kayatullah, cep meneng aja anangis.

…10 …

Sapa manglong-manglong iku, anengwetan tengah kori, apa si maling aguna, dikongkon si malang sekti, amburu si asu ajag, tandesna marang jaladri.

… 11 …

Yen wus panggih prenahipun, kokopen getihe nuli, babalunge kemahana, yen asu ajag wus mati, baliya maling aguna, reksanen si jabang bayi.

… 12 …

Sapa manglong-manglong iku, aneng kidul tengah kori, apa si maling aguna, dikongkon si maling sekti, amburu si asu ajag, tandesna marang jaladri.

… 13 …

Yen wus panggih prenahipun, kokopen getihe nuli, babalunge kemahana, yen asu ajag wus mati, baliya maling aguna, reksanen si jabang bayi.

… 14 …

Sapa manglong-manglong iku, aneng kulon tengah kori, apa si maling aguna, dikongkon si maling sekti, amburu si asu ajag, tandesna marang jaladri.

… 15 …

Yen wus panggih prenahipun, kokopen getihe nuli, babalunge kemahana, yen asu ajag wus mati, baliya maling aguna, reksanen si jabang bayi.

… 16 …

Sapa manglong-manglong iku, aneng elor tengah kori, apa si maling aguna, dikongkon si maling sekti, amburu si asu ajag, tandesna marang jaladri.

… 17 …

Yen wus panggih prenahipun, kokopen getihe nuli, babalunge kemahana, yen asu ajag wus mati, baliya maling aguna, reksanen si jabang bayi.

… 18 …

Sapa ana lungguh iku, aneng kiwa-ningsun guling, apa si maling aguna, kinongkon si maling sekti, amburu si sarap sawan, larungen marang jaladri.

… 19 …

Sapa ana lungguh iku, aneng tengen-ningsun guling, apa si maling aguna, kinongkon si maling sekti, amburu si sarap sawan, larungen marang jaladri.

… 20 …

Sapa ana lungguh iku, aneng dagan-ningsun guling, apa si maling aguna, kinongkon si maling sekti, amburu si sarap sawan, larungen marang jaladri.

… 21 …

Sapa ana lungguh iku, Ulon-ulon-ningsun guling, apa si maling aguna, kinongkon si maling sekti, amburu si sarap sawan, larungen marang jaladri.

… 22 …

Sapa kuwe mengak-minguk, apa si Bajing akikik, kinongkon si Aji-plampang, arsa mrawaseng ajurit, amburu si Kutilapas, payo burunen den aglis.

… 23 …

Tundungen dimene mumbul, sumengka ing awiyati, yen wis adoh tan katingal, sigra baliya den aglis, moluwa maling aguna, angreksa si jabang bayi.

… 24 …

Apa swarane gumludug, kadya lindu gonjang-ganjing, layak si Bledug kasanga, pada atanding kuwanin, kalawan Sapi Gumarang, payo buraken den aglis.

… 25 …

Yen wus sumengka manduwur, sira baliya tumuli, ngumpula si Aji-plampang, atunggu si jabang bayi, ingsun matak aji dipa, ingsun tuduh anggoleki.

… 26 …

Burunen celeng Demalung, tundungen dimen manginggil, yen wus ora katingalan, sira baliya den aglis, reksanen ingkang santosa, anak ingsun jabang bayi.

… 27 …

Dadiya tetulak tanggul, aja na kang sarap sawan, sumingkira ingkang tebih, kariya guna yuwana, utama bekti basuki.

… 28 …

Widada dawa kang umur, kacukupan sandang bukti, ntuk wahyu begja daulat, drajat nugrahaning Widi, cepak jatu kramanira. Oyod arondon lestari.

… 29 …

Sawengi aja na turu, adohna sakeh bilai, singkirna sakehing lara, tulak sarik samya kandih, baliya nuju wetonnya, si jabang amales becik.

… 30 …

Gantya mangke kang winuwus, nunggal anggite wong luwih, ngukarani pepujiyan, tutulaking jabang bayi, sinawang yuda-kenaka, mamrih rahayuning urip.

Tembang Pangkur

… 01 …

Singgah-singgah kala singgah, pan suminggah durga kala sumingkir, singa ama sing awulu, sing suku sing asirah, sing atenggak lawan kala sing abuntutut, pada sira suminggaha, muliya mring asal neki.

… 02 …

Ana kanung saka wetan, nunggang gajah telale elar singgih, kulahu barang balikul, setan lan brekasakan, amuliya mring tawang towang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak balik.

… 03 …

ANa kunang kidul sangkanya, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu barang balikul, setan lan berkasakan, amuliya mring tawang towang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak balik.

… 04 …

ANa kunang kulon sangkanya, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu barang balikul, setan lan berkasakan, amuliya mring tawang towang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak balik.

… 05 …

ANa kunang lor sangkanya, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu barang balikul, setan lan berkasakan, amuliya mring tawang towang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak balik.

… 06 …

ambalik maring awaknya, mbalik marang jasatira pribadi, mbalik karsaning Hyang Agung, tamat pasinggah setan, tulak sarap punika gantya winuwus, arane sarap den ucap, sagung kama salah sami.

… 07 …

Arane sarap kang lanang, kulhu putih kang wadon kulhu kuning, ywa wuruk sudi mring sun, ywa marang kaki jabang, sarap mangke sarap wedang sarap awu, pada sira suminggaha, muliha mring asal neki.

… 08 …

Samya geger setan wetan, anrus jagad kulon playune demit, kang tengah Batara Guru, tinutup Nabi Sleman, iblis setan berkasakan ajur luluh, ki jabang bayi wus mulya, liwat siratal mustakim.

… 09 …

Geger stan kidul samya, anrus jagad elor playune demit, kang tengah Batara Guru, tinutup Nabi Sleman, iblis setan berkasakan ajur luluh ki jabang bayi wus mulya, liwat siratal mustakim.

… 10 …

Ajiku gajah pamudya, kebo dungkul brapa rep-sirep sami, sirepa lelara iku, asuwung jantung jagad, tuting mata-mata liring manik ingsun, panahku sapu buwana, dadekna kusuma adi.

… 11 …

Tibakna mring janma lupa, eling mengko eling embenireki, salamet saumuripun, apan ingsun wus wikan, sun angadeg satengahing sagara gung, palinggihku lintang johar, ingkang ingsun-sedya dai.

… 12 …

Tan pegat pamuji mantra, pun Jaswadi putra ing Kodrat-manik, lailaha-ilalahu, Mochammad Rasulullah, salalahu ngalaihi wa salamu, wa ngalaekum salam, agantya manising puji.

Tembang Dhandhanggula

… 01 …

Sipat iman wa mantu bilahi, tegesipun pracaya ing Allah, ing Pangeran sajatine yan Pangeran kang Agung, kang akarya bumi lan langit, angganjar lawan niksa, mring manungsa sagung, langgeng tur murba misesa, Maha Suci angganjar paring rijeki, aniksa angapura.

… 02 …

Kaping kalih wa malaekati, tegesipun pracaya malaekat, anapun tegesem ingutus ing Hyang Agung, pakaryane anunulisi, marang kawulanira, kang dosa lit agung, kang karya purba wisesa, neka-neka gawena sawiji-wiji, sakehe malaekat.

… 03 …

Kaping tigane wa kutubihi, tegesipun pracaya ing kitab, kang tinurunaken kabeh, kitab Adam sapuluh, Nabi Esis seket winilis, anenggih ponang kitab, Idris telung puluh, Ibrahim sapuluh kitab, Torat Musa Dawud Jabur Ngisa Injil, kitab Kuran Mochammad.

… 04 …

Yogya sira kawruhana sami, muga-muga antuka supangat, iya iku andikane, gusti Njeng Nabi Rasul, sinung rahmat dening Hyang Widi, sing sapa ngapalena, iyajanjinipun, den padakken asidekah, saben warsa sami lan wong munggah kaji, sapisan marang Mekah.

… 05 …

Lan den dohken sakehing bilai, sinung rahmat ing donnya akerat, sarta linebur dosane, lan malih sawabipun, lamun ana janma kang sakit, lan sira wacakena, ngulon-ulonipun, ngalamat ingkang alara, oleh tamba saking sabdaning Hyang Widi, lan berkahing Panutan.

… 06 …

Kawruhana kehing pra Nabi, Nabi Adam kang mangka wiwitan, Nabiyullah wekasane, katahe yen pinetung, kawan dasa langkung kalih, lah sigra estokena, sadaya den emut, luwih agung kang supangat, lemah sangar kayu aeng lebur sami, tan ana kara-kara.

… 07 …

Gantya malih murwanio amuji, Caritane nenggih wringin sungsang, punika ageng sawabe, ananging ta kalamun, winaca sru pareng nujoni, ana wanudya wawrat, iku tan pakantuk, manawa dadya jalaran anggogrogken wetengane kang nggarbini, dadya wasaneng durma.

Tembang Durma

… 01 …

Wringin sungsang wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suji kembar, pipitu jajar maripit, asri yen siyang, angker kalane wengi.

… 02 …

Duk samana akempal kumpuling rasa, netraku dadi dingin, netra ningsun emas, puputihe mutyara, ireng-ireng wesi manik, ceploking netra, waliker uda ratih.

… 03 …

Idep ingsun kekencang bang ruruwitan, alisku sarpa mandi, kiwa tengen pisan, cupakku surya kembar, kedepku pan kilat tatit, kang munggeng sirah, wesi kekenten adi.

… 04 …

Rambut kawat sinomku pamor anglayap, batuk sela cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gangsa, irungku wesi duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning.

… 05 …

Watu item lungguhe ing janggut ingwang, untuku rajeg wesi, lidah wesi abang, aran wesi mangangkang, iduku tawa sakalir, lambeku iya, sela matangkep kalih.

… 06 …

Guluku-ningsun paron wesi galigiran, jaja wesi sadacin, pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi walulin, bauku denda, sikutku pukul wesi.

… 07 …

Asta criga epek-epek ingsun cakra, cakar wok jempol kalih, panuduh trisula, panunggulku musala, mamanisku supit wesi, jentikku iya, ingaran pasopati.

… 08 …

Bebokongku sela ageng kumalasa, akawet wesi gilig, ebol-ingsun karah, luput denda kang tinja, balubukan entut mami, uyuhku wedang, dakarku purasani.

… 09 …

Jembut kawat gantungaku wesi mentah, walakang wesi gapit, pupu kalataka, sungsum ingsun gagala, ototku gungane wesi, ing dalamkan, ingaran kaos wesi.

… 10 …

Sampun pepak sarira-ningsun sadaya, samya pangawak wesi, pan ratuning braja, manjing aneng sarira, tan ana braja ndatengi, dadya wiyana, ayu sarira mami.

*
Katutup kaliyan kidung sarira ayu

Tembang Dhandhanggula


… 01 …

Ono kidung rumekso ing wengi, teguh ayu luputa ing lara, luputa bilai kabeh, jim setan datan purun, paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala, gunaning wong luput, geni atemahan tirta, maling adoh tan ana mgarah mring mami,guno duduk pan sirno.

… 02 …

Sakehing lara pan samya bali, sakeh ngama pan sami miruda, welas asih pandulune, sakehing braja luput, kadi kapuk tibaning wesi, sakehing wisa tawa, sato galak tutut, kayu aeng lemah sangar, songing landk guwane wong lemah miring, myang pakiponing merak.

… 03 …

Pangupakaning warak sakalir, nadjan arca myang sagara asat, temahan rahayu kabeh, apan sarira ayu, ingideran kang widadari, rineksa malaekat, sakatahing Rasul, pan dadi sarira tunggal, ati Adam utekku Bagenda Esis, pangucapku ya Musa.

… 04 …

Napasku Nabi Ngisa linuwih, Nabi Yakub pamiyarsa ningwang, Yusup ing rupaku mangke, Nabi Dawud swaraku, Njeng Suleman kasekten mami, Nabi Ibrahim nyaw, Edris, ing rabutku, Bagenda Ali kulit ingwang, getih daging Abu Bakar Ngumar singgih, balung Bagenda Ngusman.

… 05 …

Sungsum ingsun Patimah linuwih, Siti aminah bajuning angga, ayub ing ususku mangke, Nabi Nuh ing jejantung, Nabi Yunus ing otot mami, netraku ya Muhammad, pamuluku Rasul, pinayungan Adam sarak, sampun pepak sakatahing para Nabi, dadya sarira tunggal.

… 06 …

Wiji sawiji mulane dadi, apan pencar saisining jagad, kasamatan dening Date, kang maca kang angrungu, kang anurat kang animpeni, dadi ayuning badan, kinarya sesembur, yen winacakna ing toya, kinarya dus rara tuwa gelis laki, wong edan nuli waras.

… 07 …

Lamun ana wong kadenda kaki, wong kabonda wong kabotan utang, yogya wacanen den age, nalika tengah dalu, ping sawelas wacanen singgih, kang luwar ingkang kabanda, kang kadenda wurung, aglis nuli sinauran, mring Hyang Suksma ingkang utang iku singgih, kang agring nuli waras.

… 08 …

Lamun arsa tulus nandur pari, puwasaha sawengi sadina, iderana galengane, wacanen kidung iku, sakeh ngama sami abali, yen sira lunga perang, wateken ing sekul, antuka tigang pulukan, mungsuhira rep-sirep tan ana wani, rahayu ing payudan.

… 09 …

Sing sapa reke bisa nglakoni, amutiha lawan anawaha, patang puluh dina bae, lan tangi wektu subuh, lan den sabar sukuring ati, insya allah katekan, sakarsanireku, tumrap sanak rajatira, saking sawabing ngelmu pangiket mami, duk aneng Kali-Jaga.

(HSJ)

Yogyakarta I am Here.....


Wisuda bulan Agustus 2016 lalu yang bergelar S.Pd. di IKIP Siliwangi Bandung, aku memang langsung merencanakan untuk mengambil Pendidikan Profesi Guru (PPG) terlebih dahului dengan mengikuti program SM3T. Aku sengaja tidak mendaftar-daftar ke sekolah untuk mengajar karena alasan peraturan pemerintah tentang guru. Ini mungkin dilematika bagi guru di seluruh Indonesia, dan menjadi guru itu adalah momok yang sedikit menakutkan. Kalian tahu kenapa? karena gaji guru honorer tidaklah seberapa.. Emmm... but It is true. Dan menurut peraturan tentang guru yang terbaru, guru yang belum PLPG (istilah dulu) atau belum PPG (istilah sekarang) belum legal menjadi guru. PPG ini juga sebenarnya melindungi hak guru dalam hal honor. 

Bulan Juni 2016 sebetulnya ada pendaftaran SM3T, aku sempat mendaftar tapi karena kembaran lulus kemudian dia meminta untuk mendaftar SM3T tahun depan. Setengah tahun menganggur, bolak-balik Yogyakarta - Bandung - Cilacap dan travel ke beberapa tempat akhirnya aku memutuskan untuk mengajar les di Cilacap Kota. Baru empat bulan memberi les anak SD dan SMP akhirnya Ristek Dikti membuka program PPG Bersubsidi. Ada dua acam PPG Bersubsidi yang ditawarkan, yaitu PPG Prajabatan dan PPG Dalam Jabatan. PPG Prajabatan adalah program profesi untuk lulusan linier dengan profesi yang dibuka dengan usia dibawah 28 tahun dan belum menikah. PPG Dalam Jabatan (Daljab) adalah bagi guru yang aktif mengajar dan sudah mengantongi SK mengajar minimal dua tahun dan linier dengan program profesi yang dibuka.

Well...well... yang ditunggu-tunggu akhirnya .... Aku langsung daftar, dan langsung mendaftar di Yogyakarta. Kota yang aku tunggu-tunggu untuk belajar lagi dan tingga di sana. Kota yang kaya akan budaya, sekalian nimba dan mengamati ilmu budaya di sini. Dan juga ingin sering berziarah di makam-makam  mbah. ☺ Aku dulu hanya menyukai budaya, tapi tak pernah suka dengan sejarah. Ternyata ini sedikit membuat bias dalam memahami budaya, karena ketika ingin memahami suatu budaya pasti akan muncul banyak pertanyaan yang berkaitan dengan sejarah. Di usia yang sudah tidak belia lagi alias sudah kuliah aku baru suka dengan sejarah. Not really bad ✋✋✋

Dimulai dari sini lah aku nanti akan menuliskan blog-blog bertema sejarah dan budaya. Here I go. . . . .



Rabu, 22 November 2017

Majalah Pusara dan Jurnalistik

Awalnya aku tak mengetahui apa itu Majalah Pusara, hingga akhirnya aku menghadiri sebuah diskusi rutin mben Selasa di Museum Dewantara Kirtigriya di Jalan Taman Siswa Kota Yogyakarta yang bertemakan tentang literasi. (10/10/2017)
Langsung saja dibabar tentang apa yang aku dapat dari diskusi ini ya…. Check this out…
Majalah Pusara merupakan majalah yang dibuat atas dasar prakarsa ki Hajar Dewantara, majalah ini tepatnya berdiri pada tanggal 31 Oktober 1931 dan tahun ini menginjak usia 86 tahun. Sampai sekarang, Majalah Pusara masih tetap konsisten dengan misinya sebagai penyebar pendidikan, ilmu dan pengamat tingkah laku pribumi sehari-hari.
Beruntung sekali aku dapat menghadiri acara ini karena ternyata pematerinya adalah jurnalis-jurnalis kawakan. Dalam diskusi ini ada empat pemateri utama yaitu ki Kusworo, Prof. Cahyo, ki Priyo Dwiarso dan ki Warisman. Beliau merupakan orang-orang penting dibalik eksisnya Majalah Pusara, mereka memberikan banyak ilmu mengenai dunia jurnalis di Indonesia yang beliau alami. Tentu beliau telah banyak makan asam garam di dunia jurnalistik Indonesia mengingat usia mereka yang rata-rata di atas 70 tahun.
Ki Kuwsoro menjadi pembicara pertama di acara ini, beliau merupakan wartawan dari Majalah Pusara, Majalah Sinus (Siswa Nusantara) untuk SMP dan SMA, Majalah Kerabat
(majalah paguyuban trah HaBa), Koran Kompas, dan Majalah Sinar Harapan. Ki Kusworo menjelaskan bahwa beliau baru saja mendapat telfon dari Jakarta yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk Majalah Pusara. Beliau menegaskan kalau pengucapan kata “pusara” itu bukan dibaca seperti dalam Bahasa Indonesia pada umumnya.
“Pusara merupakan Bahasa Jawa yang berarti suk pemersatu lidi-lidi agar dapat tergabung menjadi satu kesatuan maka membacanya bukan “pusara” tapi “pusoro”, sebab kalau dibaca pusara ini bermakna batu nisan. Sama halnya dengan pembacaan Dewantara yang dibaca “Dewantoro”. Jelasnya
Dalam pembahasannya ki Kusworo juga menyinggung tentang hal yang biasanya harus dilakukan menurut ki Hajar. Seseorang awalnya harus dipaksa dalam melakukan sesuatu, kemudian dari dipaksa ini menjadikannya terpaksa, selanjutnya menjadi terbiasa dan puncaknya adalah menjadi luar biasa. Ternyata melakukan sesuatu yang awalnya dipaksakan adalah hal yang manusiawi ya sobat, benar juga ketika kita bermalas-malasan dan kemudian ada doa yang berbunyi “Allohuma paksakeun” hihihi … jangan takut untuk memulai dan memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang positif yaa…. Dalam proses pembelajaran juga ki Hajar menggunakan strategi “TRIKON”.
Dulu ki Hajar pernah menuntut ilmu di negeri Belanda, yang tentu pembelajarannya sedikit berbeda dari karakter bangsa Indonesia, untuk itu ki Hajar berusaha menyaringnya untuk kemudian dapat diajarkan di Indonesia. Strateg Trikon ini meliputi konvergen, konsentris, dan kontinuitas. Konvergen maksudnya agar mutu pendidikan di Indonesia bisa maju setara dengan pendidikan yang ada di barat. Konsentris berarti ilmu itu harus menanamkan lokal wisdom yang menonjolkan karakter keindonesiaan agar terpatri disetiap jiwa pemudanya. Kontinuitas maksdunya adalah bahwa pendidikan harus berjalan terus-menerus sebagai sebuah proses yang simultan.
Pembicara yang kedua merupakan prof. Cahyo, beliau menambahkan bahwa selain ki Hajar merupakan seorang tokoh yang berperan dalam pendidikan di Indonesia, beliau seorang jurnalis dan juga merupakan tokoh dibalik terbentuknya jurnalisme di Indonesia. Ini dibuktikan dengan beliau mendirikan Majalah Pusara dan mencetaknya secara independen, mengingat zaman dulu mesin cetak sangatlah langka. Majalah ini tersebar di beberapa tempat di Indonesia.
Pembicara ketiga yaitu ki Priyo Dwiarso, beliau juga merupakan dewan majelis luhur Taman Siswa dan jurnalis Majalah Pusara. Selain menjadi jurnalis beliau juga berperan sebagai pencetak, pengumpul dana dan memasarkan Majalah Pusara terutama ke rektor-rektor universitas. Dalam pembahsannya ki Priyo memaparkan tentang arti literasi. Dahulu saat pertamakali pada zaman ki Hajar, baru ada istilah jurnalistik yang berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan tulis-menulis dan istilah bibliotik yang berarti melihat di perpus. Sekarang istilah tersebut dikenal dengan istilah literasi, literasi berasal dari Bahasa Inggris “literacy” yang berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan tulisan. Literasi sendiri terbagi menjadi dua macam, yaitu literasi aktif dan literasi pasif. Literasi aktif berarti menjadikan diri kita menjadi subjek atau pelaku literasi contohnya aktif menulis, aktif berdiskusi dan mengadakan diskusi. Literasi pasif berarti literasi yang menjadikan diri kita sebagai pengamat seperti sebagai pembaca tanpa adanya kegiatan mengkritik atau berdiskusi.
“Banyak orang menjadi korban dari berita hoax karena banyak di zaman sekarang yang hanya menjadi literasi pasif. Seandainya masyarakat mau berperan sebagai literasi aktif dan literasi pasif maka tentu mereka akan terlatih untuk bisa membedakan berita yang objektif dan yang tidak.” Terang ki Priyo.
Dalam suasana kekeluargaan diskusi ini diakhiri dengan bercengkrama dan makan bersama. Beliau saling melontarkan kalimat-kalimat sarkasm yang memicu gelak tawa. Inilah hal yang beliau-beliau lakukan agar tetap awet muda dan tentu tujuan lainnya adalah untuk saling mengingatkan tanpa adanya kekakuan.
Sebagai tambahan ki Priyo Dwiharso merupakan saksi mata atas berjalannya pendidikan yang dijalankan oleh ki Hajar Dewantara kala ki Priyo masih kecil dan remaja. Dari kesahajaan ki Priyo bisa tergambar betapa ki Hajar dulu merupakan sosok panutan masyarakat. Ki Hajar diceritakan sebagai yang tak mudah termakan isu terutama yang dihembuskan oleh pemerintah Belanda yang kerap ingin memecah tokoh masyarakat sekitar dan juga masyarakat awam. Beliau sangat teliti, berpengetahuan dalam dan waskito.
Ki Priyo bercerita kala itu beliau disuruh oleh ibunya ke warung, dalam perjalanannya pulang beliau menemukan bungkusan seperti bom dan ada semacam jam waktu di dekatnya namun jamnya tidak jalan. Sesampainya di rumah beliau menceritakan kepada ayahnya kalau beliau menemukan seperti sebuah bom di jalan. Akhrinya ayah ki Priyo, ki Priyo dan ki Hajar datang langsung ke tempat bom tersebut. Di bom tersebut bertuliskan ancaman untuk ki Hajar dan gambar palu arit, kemudian pihak Belanda pun datang.
“Lihatlah PKI ingin menyerangmu.” Seorang Londo mengatakan kepada ki Hajar
“Wah saya tahu ini bukan orang PKI atau orang Indonesia yang melakukan ini, lihat saja gambar aritnya kebalik. Seorang PKI betulan tak akan menggambarnya dengan terbalik.” Jelas ki Hajar



Untuk yang ingin ikut diskusi mben Selasa di Museum Kirti Griya stay tune dan follow IGnya @museumdewantara

Senin, 20 November 2017

Lost in Your Smile

Tawamu pasti membenamkan segala hal yang tak seharusnya difikirkan lebih jauh. Mendamaikan ... Seperti pengobat orang yang sedang dahaga...Bagai seteguk air yang menyegarkan...

Aku ada dan telah tercipta seperti ini yang apa adanya, tapi dengan datangnya sinar matahari membuat hidupku lebih merekah seperti bunga mawar yang dihujani sinar matahari pagi...

You deliver any particular needed... you identify in detail... and its erase any doubt... its so relieved...

I can't beg anything further to you now.... But I want you always by my side...

Will you?

Smile that you gave for me before you left Yogyakarta was more than enough to say that I am in love with you more than any words.

Big S