bismillah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Senin, 27 Agustus 2018

Arti dan Penjelasan Dhalang Menurut Ensiklopedia Sastra Jawa Terbitan Balai Pustaka

Dhalang (120)

Istilah dhalang tersimpul dari kata weda dan wulang atau mulang. Weda ialah kitab suci orang beragama Hindu yang ditulis dalam Bahasa Sansekerta. Di dalam Weda termuat peraturan tentang hidup dan kehidupan manusia di tengah masyarakat ketika berinteraksi dengan sesama manusia menuju kesempuranaan (setelah meninggal dunia). Wulang berarti ajaran atau petuah. Mulang  berarti memberi pelajaran.  Berdasarkan hal itu, dhalang dapat digambarkan sebagai seorang yang mempunyai tugas suci untuk memberi pelajaran, wejangan, uraian atau tafsiran tentang isi kitab suci Weda beserta maknanya kepada khalayak ramai. Menurut sejarahnya, pada zaman dahulu, dhalang tidak mengharapkan upah dalam bentuk apa pun atas karyanya itu. Hal itu diungkapkan dalam bahasa sepi ing pamrih, rame ing gawe 'tiada mengharap imbalan, sungguh-sungguh bekerja'. Segala pikiran dan tenaga dhalang hanya dipusatkan kepada tugasnya tersebut, yaitu menanamkan benih kesempurnaan dan keluhuran  budi pekerti pada orang-orang yang mengikuti jejaknya melalui pertunjukan cerita wayang kulitnya. Seorang dhalang mempunyai kedudukan sederajat dengan guru yang luhur dan luas pengetahuannya. Kini, pekerjaan mendalang merupakan suatu mata pencaharian, bukan semata-mata suatu bentuk pengabdian seperti zaman dahulu.

Istilah Begawan dalam Penokohan Cerita Wayang menurut Ensiklopedia Sastra Jawa Terbitan Balai Pustaka Yogyakarta

Begawan (61)
Begawan Ciptoning

Begawan adalah gelar bagi pertapa dan guru dalam dunia pewayangan. Begawan Drona, misalanya, adalah guru besar di Kerajaan Astina yang mengajarkan ilmunya pada keluarga Kurawa dan Pandawa. Begawan Bagaspati, waulaupun hanya mempunyai seorang murid bernama Narasoma - menantunya sendiri, tetapi ia seorang pertapa yang tekun. Seorang begawan tidak harus berdarah brahmana. Misalnya, ketika Arjuna bertapa di Gunung Indrakila, ia memakai nama Begawan Ciptoning atau Begawan Mintaraga. Bahkan Anoman, yang berwujud kera pun di hari tuanya dikenal dengan sebutan Begawan atau Resi Mayangkara.

Dalam pewayangan sebutan serupa begawan adalah resi atau pandita. Hampir semua begawan dalam pewayangan merupakan manusia sakti.

Istilah Awicarita dalam Ilmu Pedhalangan dalam Ensiklopedia Sastra Jawa

Awicarita (46)

Dalam istilah Jawa dikenal istilah awicarita. Awicarita adalah seseroang yang ahli mendongeng atau bercerita yang membuat pembaca merasa terharu. Istilah awicarita setaraf dengan paramengsastra (ahli di bidang bahasa dan sastra), paramengkawi (ahli dibidang karang-mengarang), mardawa lagu (ahli di bidang tembang dan lagu, mardawa berarti halus), mardawa basa (ahli di bidang merangkai bahasa yang mengharukan atau menyebabkan rasa haru di hati, yang menyebabkan rasa gembira, rasa kasih, dan sebagainya), mandraguna (sangat terampil dalam hal kemampuan dan pengetahuan), nawungkrida (halus perasaan sampai bisa menanggapi maksud hati orang lain, dan sambegana (utama sekal hidupnya). Pujangga yang bergelar awicarita memiliki beberapa kelebihan, baik lahir maupun batin. Seorang pujangga yang memiliki kelebihan batin berarti dapat mendengar akacacabda 'suara langit'. Yang dimaksudkan suara langit atau bisikan atau ilham yang datang dari langit atau dalam isitilah sastra Jawa disebut Jangka 'ramalan'.

Dalam perkembangannya, istilah awicarita juga digunakan dalam istilah pedalangan. Dalam istilah pedalangan, awicarita digunakan sebagai penyebutan bagi dalang yang mampu menguasai seluk-beluk wayang dan segala kelengkapannya. Dalang dapat disebut awicarita apabila dia memahami dengan benar semua cerita yang terkandung dalam sebuah lakon yang sedang ditunjukannya. Disamping itu, ia mengetahui semua boneka wayang kulit beserta ricikan-nya, yaitu berbagai peralatan dan perlengkapannya yang diperlukan secara mutlak untuk menentukan suatu lakon. Untuk menjadi awicarita, dalang harus dapat mengetahui dua belas macam keahlian.

Kedua belas hal pokok itu adalah

Istilah Empu dalam Ensiklopedia Sastra Jawa terbitan Balai Pustaka

Empu (162)

Ada beberapa pengertian untuk istilah empu, yaitu (1) guru, pandai besi, (2) tuan, orang yang terhormat, atau yang memiliki nilai lebih, pujangga, dan (3) umbi kunyit, kencur besar. Dalam kaitannya dengan sastra Jawa, arti terdekat empu adalah "pujangga" atau pengarang, yaitu orang yang pandai atau memiliki nilai lebih dalam karang-mengarang. Bahkan, seorang yang bergelar "empu" adalah seseorang yang telah mampu menciptakan maha karya atau karya agung selama pengabdiannya di bidang seni yang ditekuni. Termasuk dalam pengertian seni di sini ialah seni sastra, karawitan, arsitektur, dan pembuatan keris pusaka. Mereka yang dinilai berprestasi dalam bidang-bidang tersebut mendapat gelar resmi sebagai "empu" dari kerajaan. Dalam masyarakat umum istilah "empu" dikenakan sebagai pembuatan keris pusaka, seperti sebutan Empu Gandring, Empu Supa, dan sebagainya.

Rabu, 01 Agustus 2018

Sastra Jawa Berkaitan dengan Ilmu Pedalangan (Empu, Awicarita, Begawan, Dhalang, Kawi, Kawi Miring, dan Sekar Ageng)

Sering nonton pagelaran wayang kulit dan sering terpesona dengan cara dalangnya membawakan cerita dan penokohan wayangnya, membawakan suluknya, mengantarkan cerita janturannya, gedingnya, sekarnya, sampai bentuk wayangnya. Aku sering banget nanya ke orang-orang yang aku temui saat nonton wayang. Beberapa orang menyodorkanku buku tentang wayang, mengajakku menghadiri workshop tentang wayang sampai main ke sanggar wayangnya. Heee....

Kali ini aku nemuin buku Ensiklopedia Sastra Jawa terbitan Kemendikbud dan Badan Pengembangan dan pembinaan Bahasa Balai Bahasa Provinsi DIY

Wisnu dan Sri Bathara Kresna menurut Sunan Prawata (Ilmu Kang Kaesthi Jeng Sunan Prawata)

Semenjak sebulanan yang lalu sebetulnya sudah pengin nulis tentang apa yang muncul di otakku dan cukup meresahkan. Pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal tentang spekulasi pemikiranku yang mungkin bagi sebagian orang lumayan aneh dan ektrim. Tapi aku yakin dari spekulasiku ini pasti ada jawabannya dan akhirnya aku menemukan spekulasiku tentang dunia pewayangan tadi malam. Sangat bersyukur sekali ternyata sedikit dari beberapa pertanyaan dan spekulasiku selama ini sudah terjawab dan ada dasar yang jelas. Malam tadi aku menghadiri acara hajatnya Mas Rency, Mas Rency ini sebetulnya adalah pangeran Paku Alaman tapi beliau itu biasanya marah kalau disinggung-singgung soal gelarnya heeee..... :D Mas Rency kebetulan weekend nanti akan sowan ke Makam Sunan Prawata, jadi sebelum ke sana Mas Rency mengadakan acara sholawatan dan membahas atau ngaji Serat Gubahan Sunan Prawata yang isinya menceritakan siapa dirinya